-->

Bupati Panen Raya Padi Sistem Tanam Teknologi Hazton di Desa Lili Riawang.

Bone, www.jejakkasus.info - Bupati Bone Dr. H. Andi Fahsar Mahdin Padjalangi, M.Si. menghadiri Panen Raya Padi Sistem Teknologi Hazton Program Swasembada Pangan Nasional di Desa LiliRiawang Kecamatan Bengo kabupaten Bone, jumat 26 Agustus 2016.
Desa Lili Riawang ini memang sebelumnya selalu menjadi daerah percontohan   karena didukung sarana dan prasarana lengkap. Seperti halnya di desa samaelo kecamatan Barebbo.
Hadir bersama Bupati Bone, diantaranya, Ketua DPRD Bone H. Andi Akbar Yahya, Kapolres Bone AKBP Raspani, Dandim 1407 Bone Letkol Inf  BObbie Triyantho, serta Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Bone, Ir. Sunardi Nurdin Kadis Pertanian, Ir Sunardi Nurdin mengatakan, Desa Lili riawang ini merupakan satudi antara dua wilayah yang ada di Bone menjadi pusat penanaman Padi dengan Teknologi Hazton.
Dalam metode tanam ini, dalam satu lubang tanam ini, terbukti bisa meningkatkan hasil pertanian perhektarnya hingga 11 ton."Penanaman Padi dengan Teknologi Hazton ini ada dua tempat di Bone, yakni untuk
Kecamatan Bengo di Desa Liliriawang dan di Kecamatan Barebbo di Desa Samaelo, dimana areal yang ditanami sebanyak 25 hektar," ungkapnya dihadapan Bupati danpara petani di Bengo.
Menurut Ir. Sunardi Nurdin terbukti berhasil melipat gandakan hasil panen, metode ini juga, membuat pekerjaaan petani menjadi lebih ringan karena tidak perlu banyak melakukan penyiangan dan penyulaman, dan mempersingkat umur panen padi.
Pada kesempatan itu Bupati Bone memberikan bantuan alat pertanian  kepada masyarakat Petani di Kecamatan Bengo.
Bantuan berupa mesin Transplanter, mesin pompa air dan alat penggiling padi.
Teknologi Hazton, Cara Baru Menanam Padi Teknologi Hazton mulai dikembangkan sejak hampir 2 tahun lalu dikembangkan di Kalimantan Barat, teknologi ini   diperkenalkan pertama kali oleh Kepala Dinas Tanaman Panngan dan Hortikultura Kaliantan Barat Hazairin dan salah seorang stafnya bernama Anton sehingga disingkatlah menjadi Hazton.
Menurut sang proklamator teknologi ini, dengan teknik Hazton ini mampu meningkatkan produktivitas tanaman hingga 2 kali lipat, di mana rata-rata produksi padi di Kalimantan Barat rata-rata hanya 3,5 ton/ ha namun dengan teknologi hazton bisa mencapai 10 ton/ ha.
Apa dan bagaimana teknologi hazton itu sendiri? Sang penemu saat melakukan penelitian tidak melalui pengujian varietas dengan anakan terbanyak, pengaturan jaraktanam, pengaruh pemupukan, pengolahan tanah dan sebagainya.
Akan tetapi Hazairindan Anton menggunakan hipotesa awal yang sederhana yaitu   bagaimana memperbanyak indukan produktif yang seragam dan serentak saat   mengeluarkan malai, Penelitian dilakukan dengan cara menanam bibit dengan jumlah 1, 5, 10, 20,30 dan 40 per lubang tanam.
Dan hasil penelitian tersebut menunjukkan hasil terbaik adalah jumlah bibit 20 – 30 per lubang, Jadi Konsep Teknologi Hazton ini ada pada cara menaman yang biasanya hanya 5 bibit perlubang menjadi 20 – 30 per lubang.
Bibit-bibit ini tidak menghasilkan anakan melainkan indukan yang sama sehingga hasilnya maksimal.
Bagaimana bisa? Rahasianya ternyata adalah karena adaptasi fisiologi padi, dimana dengan jumlah bibit 20 -30 masing-masing bibit padi yang berada ditengah rumpun akan terjepit dan cenderung menjadi indukan utama yang produktif dan   menghasilkan malai yang prima.
Sedangkan bibit yang berada di pinggir rumpun akan menghasilkan 1-3 anakan yang semuanya produktif.
Jadi kesimpulannya: dengan jumlah bibit 20 - 30 per lubang akan menghasilkan anakan produktif sekitar 40 -60 anakan/ rumpun sehingga jumlah indukan dan anakan produktif inilah yang akan menghasilkan peningkatan produktivitas dan produksi.
Namun dengan banyaknya jumlah bibit yang digunakan, maka benih yang digunakan lebih banyak dari teknik yang biasa dipakai.
Sebagai perbandingan benih yang dibutuhkan dengan cara biasa sebanyak 25 kg/ hamaka untuk teknologi hazton benih yang dibutuhkan sebanyak 125 kg/ ha.
Walaupun menggunakan benih yang cukup banyak sang penemu mengklaim dengan menggunakan teknologi hazton petani tetap mendapatkan keuntungan yang besar.
Pupuk yang digunakan pun lebih banyak 10 – 25 % dari takaran normal, hanya sajapupuk menjadi lebih efisien karena diserap oleh indukan atau anakan   produktif sehingga tanaman menjadi lebih subur.
Selain itu teknologi hazton juga menggunakan bibit semai tua yaitu 30 - 35 hari setelah semai terutama untuk daerah endemik hama keong mas dan orong-orong   serta lokasi yang terserang banjir.
Penerapan teknologi cara baru menanam padi ini merupakan upaya Pemerintah dalam mencapai swasembada pangan dan program UPSUS, kita sebagai masyarakat dan konsumen yang ikut berperan sangat menunggu hasilnya.
Apapun itu hasilnya patutkita hargai sebagai upaya mendukung program Pemerintah dan untuk kesejahteraan petani. (surya).

0 Response to "Bupati Panen Raya Padi Sistem Tanam Teknologi Hazton di Desa Lili Riawang."

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel