Gerak Jalan Tradisional Tragedi Gerbong Maut Ke 7 TH
Bondowoso, www.jejakkasus.info - Dalam rangka memperingati hari Pahlawan dan sejarah Gerbong Maut, Disarporahub bersama Pemerintah Kabupaten Bondowoso gelar agenda tahunan,yang Sebelumnya gerak jalan tradisional Gerbong Maut Maesan-Bondowoso ini, diselenggarakan oleh KONI.
Antusias warga yang mengikuti acara tahunan ini sangat tinggi, terbukti ada sekitar 3.600 an peserta ikut andil menyemarakkan gerak jalan tradisional Gerbong Maut, Sabtu (26/11/2016).warga di sepanjang rute juga ikut meramaikan acara tersebut dengan memberikan semangat melalui sonsistemnya.
Acara tahunan ke 7 tersebut diikuti juga oleh Wakil Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin bersama Sekda Hidayat MSi, Ketua DPRD H.Ahmad Dhafir, kepala SKPD bersama seluruh peserta yang dilepas dari depan kantor Kecamatan Maesan menuju finish di Monument Gerbong Maut.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin memberikan apresiai yang cukup tinggi melihat antusias peserta. Beliau menegaskan, ada dua hal yang perlu diambil hikmah dari gerak jalan tersebut, yaitu mengenang perjuangan pahlawan gerbong maut dan menjaga sportifitas.
“Mari kita junjung semangat dan nilai kepahlawanan yang ditunjukkan oleh para pahlawan gerbong maut. Nilai kepahlawanan, nilai pengorbanan serta nilai perjuangan seperti itu kita hayati di alam pembangunan sekarang ini. Sebagai generasi muda kita semua harus mengahayati dan mewarisi nilai seperti itu untuk mengisi kemerdekaan dan pembangunan di Kabupaten Bondowoso,” tuturnya.
Sementara itu,Kepala Dinas Pariwisita, Harry Patriantono dalam laporannya mengajak semua peserta untuk tetap menjaga nilai sportifitas. Karena menurutnya, sportifitas merupakan penghormatan terhadap prestasi dan kemauan untuk mengedepankan unjuk keunggulan yang senanitiasa diraih dalam setiap kegiatan olahraga dan mengolahragakan masyarakat.
“Kami harap semua peserta tetap menjaga sportifitas dan menjaga keselamatan di jalan,” harapnya.
Terkait rute yang sedikit berbeda, Harry juga menyampaikan, jika rute Maesan-Bondowoso dengan jarak tempuh sekitar 17 km, sudah ditetapkan sebagai rute tetap gerak jalan tradisional Gerbong Maut.
“Awalnya, tahun 2010 mengambil rute Prajekan-Bondowoso, kemudian tahun 2012 Tamanan-Bondowoso kemudian Maesan-Bondowoso. Sudah 2 kali ini rute Maesan-Bondowoso (Mabon) kita laksanakan. Insyaallah rute tahun ke 7 ini, akan ditetapkan sebagai rute tahunan,” jelasnya.
Harry juga memaparkan jika kegiatan gerak jalan tradisional Gerbong Maut ini memiliki lima makna penting.
“Pertama, dalam memperingati Hari Pahlawan ke-71, kedua, mengenang tragedi Gerbong Maut 23 Nopember 1947. Ketiga, ikut serta memeriahkan festival Muharram tahun 2016. Keempat, memupuk dan mengembangkan jiwa patriotisme, khususnya di kalangan generasi muda di Bondowoso. Dan kelima, memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat, khususnya olah raga jalan kaki Gerbong Maut,” pungkasnya. (yus).
Antusias warga yang mengikuti acara tahunan ini sangat tinggi, terbukti ada sekitar 3.600 an peserta ikut andil menyemarakkan gerak jalan tradisional Gerbong Maut, Sabtu (26/11/2016).warga di sepanjang rute juga ikut meramaikan acara tersebut dengan memberikan semangat melalui sonsistemnya.
Acara tahunan ke 7 tersebut diikuti juga oleh Wakil Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin bersama Sekda Hidayat MSi, Ketua DPRD H.Ahmad Dhafir, kepala SKPD bersama seluruh peserta yang dilepas dari depan kantor Kecamatan Maesan menuju finish di Monument Gerbong Maut.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin memberikan apresiai yang cukup tinggi melihat antusias peserta. Beliau menegaskan, ada dua hal yang perlu diambil hikmah dari gerak jalan tersebut, yaitu mengenang perjuangan pahlawan gerbong maut dan menjaga sportifitas.
“Mari kita junjung semangat dan nilai kepahlawanan yang ditunjukkan oleh para pahlawan gerbong maut. Nilai kepahlawanan, nilai pengorbanan serta nilai perjuangan seperti itu kita hayati di alam pembangunan sekarang ini. Sebagai generasi muda kita semua harus mengahayati dan mewarisi nilai seperti itu untuk mengisi kemerdekaan dan pembangunan di Kabupaten Bondowoso,” tuturnya.
Sementara itu,Kepala Dinas Pariwisita, Harry Patriantono dalam laporannya mengajak semua peserta untuk tetap menjaga nilai sportifitas. Karena menurutnya, sportifitas merupakan penghormatan terhadap prestasi dan kemauan untuk mengedepankan unjuk keunggulan yang senanitiasa diraih dalam setiap kegiatan olahraga dan mengolahragakan masyarakat.
“Kami harap semua peserta tetap menjaga sportifitas dan menjaga keselamatan di jalan,” harapnya.
Terkait rute yang sedikit berbeda, Harry juga menyampaikan, jika rute Maesan-Bondowoso dengan jarak tempuh sekitar 17 km, sudah ditetapkan sebagai rute tetap gerak jalan tradisional Gerbong Maut.
“Awalnya, tahun 2010 mengambil rute Prajekan-Bondowoso, kemudian tahun 2012 Tamanan-Bondowoso kemudian Maesan-Bondowoso. Sudah 2 kali ini rute Maesan-Bondowoso (Mabon) kita laksanakan. Insyaallah rute tahun ke 7 ini, akan ditetapkan sebagai rute tahunan,” jelasnya.
Harry juga memaparkan jika kegiatan gerak jalan tradisional Gerbong Maut ini memiliki lima makna penting.
“Pertama, dalam memperingati Hari Pahlawan ke-71, kedua, mengenang tragedi Gerbong Maut 23 Nopember 1947. Ketiga, ikut serta memeriahkan festival Muharram tahun 2016. Keempat, memupuk dan mengembangkan jiwa patriotisme, khususnya di kalangan generasi muda di Bondowoso. Dan kelima, memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat, khususnya olah raga jalan kaki Gerbong Maut,” pungkasnya. (yus).

0 Response to "Gerak Jalan Tradisional Tragedi Gerbong Maut Ke 7 TH "
Post a Comment