Kampung yang Terlupakan Butuh Lirikan Pemerintah
Sinjai, www.jejakkasus.info - Kampung Lappara, Dusun Bonto, Desa Kompang, Kec. Sinjai Tengah adalah salah satu wilayah yang sulit di jangkau oleh kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. Selain itu wilayah tersebut, juga belum terjangkau aliran listrik. Serta sarana dan prasarana pendidikan juga masih sangat minim. Namun belum ada kontribusi dari pihak pemerintah.
"Sudah bertahun-tahun masyarakat menunggu masuknya pasokan listrik. Tapi sampai kapan kita akan menunggu kasian ?" Harap warga.
Penerangan yang digunakan masyarakat hanyalah lampu dengan bahan bakar minyak tanah (pelita). Selain lampu minyak beberapa masyarakat juga menggunakan solar sel (tenaga surya). Namun terkendala dengan cuaca, tentunya disaat musim hujan. Apabila cuaca kurang bagus maka cahaya yang dihasilkan redup dan terkadang tidak dapat menyalakan lampu. Oleh karena itu masyarakat sangat berharap akan perhatian pemerintah setempat maupun pemerintah daerah. Karena masyarakat juga ingin menikmati cahaya lampu dimalam hari secara maksimal. "Kita sangat butuh pasokan listrik, karena biasanya kalau musim cengkeh sampai tengah malam kita kerja", Lanjut warga.
Selain kendala listrik, wilayah tersebut juga sangat membutuhkan pendidikan dengan kurikulum standar. Setiap tahunnya jumlah siswa-siswi bertambah.
Beberapa tahun yang lalu, sekelompok pencinta alam yang tergabung dalam 'Forum Pencinta Alam Sinjai' (FPAS) melakukan perintisan sekolah alam. Akan tetapi setelah di ambil alih sebagai sekolah jauh oleh SDN 65 Kompang, hanya membuat siswa-siswi terlantar. Harusnya daerah-daerah terpencil seperti ini sudah mendapat pendidikan yang setara, sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat.
Terakhir kali mengajar pada tahun 2015, sudah setahun lebih guru SDN 65 Kompang yang bertugas sebagai pengajar sekolah jauh tidak pernah datang. Apakah yang membuat para guru tersebut tidak kunjung datang untuk menjalankan tugasnya. Padahal guru yang bertugas berjumlah 10 orang. Serta Kurikulum yang diajarkan juga tidak sesuai dengan kurikulum SDN 65 Kompang selaku sekolah induk. "Seharusnya itu di sesuaikan dengan tugas dan kurikulum. Jangan dibedakan karena para siswa-siswi disini sangat bersemangat jika ada guru yang datang mengajar" ungkap warga. (wahyu).
"Sudah bertahun-tahun masyarakat menunggu masuknya pasokan listrik. Tapi sampai kapan kita akan menunggu kasian ?" Harap warga.
Penerangan yang digunakan masyarakat hanyalah lampu dengan bahan bakar minyak tanah (pelita). Selain lampu minyak beberapa masyarakat juga menggunakan solar sel (tenaga surya). Namun terkendala dengan cuaca, tentunya disaat musim hujan. Apabila cuaca kurang bagus maka cahaya yang dihasilkan redup dan terkadang tidak dapat menyalakan lampu. Oleh karena itu masyarakat sangat berharap akan perhatian pemerintah setempat maupun pemerintah daerah. Karena masyarakat juga ingin menikmati cahaya lampu dimalam hari secara maksimal. "Kita sangat butuh pasokan listrik, karena biasanya kalau musim cengkeh sampai tengah malam kita kerja", Lanjut warga.
Selain kendala listrik, wilayah tersebut juga sangat membutuhkan pendidikan dengan kurikulum standar. Setiap tahunnya jumlah siswa-siswi bertambah.
Beberapa tahun yang lalu, sekelompok pencinta alam yang tergabung dalam 'Forum Pencinta Alam Sinjai' (FPAS) melakukan perintisan sekolah alam. Akan tetapi setelah di ambil alih sebagai sekolah jauh oleh SDN 65 Kompang, hanya membuat siswa-siswi terlantar. Harusnya daerah-daerah terpencil seperti ini sudah mendapat pendidikan yang setara, sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat.
Terakhir kali mengajar pada tahun 2015, sudah setahun lebih guru SDN 65 Kompang yang bertugas sebagai pengajar sekolah jauh tidak pernah datang. Apakah yang membuat para guru tersebut tidak kunjung datang untuk menjalankan tugasnya. Padahal guru yang bertugas berjumlah 10 orang. Serta Kurikulum yang diajarkan juga tidak sesuai dengan kurikulum SDN 65 Kompang selaku sekolah induk. "Seharusnya itu di sesuaikan dengan tugas dan kurikulum. Jangan dibedakan karena para siswa-siswi disini sangat bersemangat jika ada guru yang datang mengajar" ungkap warga. (wahyu).

0 Response to "Kampung yang Terlupakan Butuh Lirikan Pemerintah"
Post a Comment