Sedekah Bumi Desa Kertasura Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon "Aktualkan Nilai-Nilai Tradisi Dan Budaya Khas Cirebon"
CIREBON, www.jejakkasus.info - Sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah yang diberikan Allah SWT, masyarakat desa Kertasura kecamatan Kapetakan kabupaten Cirebon provinsi Jawa Barat (Jabar) menggelar upacara Sedekah Bumi dan Ngunjung Buyut di desa Kertasura, Sabtu (12-11-2016) lalu.
Juru Kunci Desa, Sajak yang merupakan Juru Kunci Buyut Limun, Mbok Gede Larapanas, Pengunjugan dan Blayun Gede, kepada Jejak Kasus mengatakan pelaksanaan Sedekah Bumi adalah tradisi masyarakat Cirebon, yakni Larungan dan Nadran yang kemudian disebut sedekah Bumi. "Sedekah Bumi sangatlah begitu sakral dan memiliki nilai-nilai spiritualitas yang tersembunyi disela-sela acara ritual pelaksanaan pesta rakyat, sekaligus pembuktian adanya ajaran Islam yang mengilhami pelaksanaanya," tuturnya.
Ditambahkan Sajak dalam pelaksanaan Sedekah Bumi diatur juga dalam hal berpakian. Pakaian yang digunakan, Kepala Desa (kuwu) menggunakan Iket (blangkon), kain panjang, sumping kembang melati, sedangkan Ibu Kuwu berbaju kurung, kain panjang, sumping melati, gulung kiyong, selendang jawana.
Sedangkan Upacara adat Sedekah Bumi ditandai dengan Srakalan, pembacaan kidung, pencungkilan tanah, kemudian diadakan arak-arakan yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dengan segala bentuk pertunjukan yang berlangsung di balai Desa dan Makam Buyut."Seperti saat ini di Balai Desa Kertasura diadakan pertunjukan Wayang Kulit yang disaksikan masyarakat desa Kertasura," ucap Sajak.
Sajak mengharapkan Cirebon sebagai kota budaya dan pariwisata harus mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tradisi dan budaya khas Cirebon baik yang melekat pada masyarakat Cirebon, untuk dikemas menjadi komoditi pariwisata dalam skala Regional, Nasional maupun Internasional. Selain itu juga Cirebon sebagai kota industri, yang berlatar belakang sejarah budaya dan tradisi diharapkan akan berkembang menjadi industri kecil padat kaya (kerajinan, tradisional) yang berorientasi ekspor, sehingga berkembang industri pariwisata sebagai pendukung kota budaya dan pariwisata.
"Pelestarian tradisi ini akan menjadikan kehidupan masyarakat yang masih menghormati tradisi leluhur dan tetap akan melestarikannya seperti kata ini, Ketahuilah, bahwa yang terpenting bukan hanya bagaimana belajar sejarah, melainkan bagaimana belajar dari sejarah. Presiden RI Soekarno menegaskannya dengan istilah: "Jasmerah" (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah)," papar Sajak menutup perbincangan. (Erdan)
Juru Kunci Desa, Sajak yang merupakan Juru Kunci Buyut Limun, Mbok Gede Larapanas, Pengunjugan dan Blayun Gede, kepada Jejak Kasus mengatakan pelaksanaan Sedekah Bumi adalah tradisi masyarakat Cirebon, yakni Larungan dan Nadran yang kemudian disebut sedekah Bumi. "Sedekah Bumi sangatlah begitu sakral dan memiliki nilai-nilai spiritualitas yang tersembunyi disela-sela acara ritual pelaksanaan pesta rakyat, sekaligus pembuktian adanya ajaran Islam yang mengilhami pelaksanaanya," tuturnya.
Ditambahkan Sajak dalam pelaksanaan Sedekah Bumi diatur juga dalam hal berpakian. Pakaian yang digunakan, Kepala Desa (kuwu) menggunakan Iket (blangkon), kain panjang, sumping kembang melati, sedangkan Ibu Kuwu berbaju kurung, kain panjang, sumping melati, gulung kiyong, selendang jawana.
Sedangkan Upacara adat Sedekah Bumi ditandai dengan Srakalan, pembacaan kidung, pencungkilan tanah, kemudian diadakan arak-arakan yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dengan segala bentuk pertunjukan yang berlangsung di balai Desa dan Makam Buyut."Seperti saat ini di Balai Desa Kertasura diadakan pertunjukan Wayang Kulit yang disaksikan masyarakat desa Kertasura," ucap Sajak.
Sajak mengharapkan Cirebon sebagai kota budaya dan pariwisata harus mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tradisi dan budaya khas Cirebon baik yang melekat pada masyarakat Cirebon, untuk dikemas menjadi komoditi pariwisata dalam skala Regional, Nasional maupun Internasional. Selain itu juga Cirebon sebagai kota industri, yang berlatar belakang sejarah budaya dan tradisi diharapkan akan berkembang menjadi industri kecil padat kaya (kerajinan, tradisional) yang berorientasi ekspor, sehingga berkembang industri pariwisata sebagai pendukung kota budaya dan pariwisata.
"Pelestarian tradisi ini akan menjadikan kehidupan masyarakat yang masih menghormati tradisi leluhur dan tetap akan melestarikannya seperti kata ini, Ketahuilah, bahwa yang terpenting bukan hanya bagaimana belajar sejarah, melainkan bagaimana belajar dari sejarah. Presiden RI Soekarno menegaskannya dengan istilah: "Jasmerah" (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah)," papar Sajak menutup perbincangan. (Erdan)
0 Response to "Sedekah Bumi Desa Kertasura Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon "Aktualkan Nilai-Nilai Tradisi Dan Budaya Khas Cirebon" "
Post a Comment