DAOEL COMBO Musik Tradisional yang Hampir punah, New Seroja Inspirator Kaum Muda Dalam Bulan Ramadhan, Reporter Hernandi K S.Sos M.Si
Sampang, www.jejakkasus.info - Daoel Combo berasal dari musik Patrol untuk membangunkan orang sahur yang setiap tahun menjadi inspirasi kaum muda dalam bulan Ramadhan
Sehingga Daoel Combo ini di anggap menjadi Musik tradisional Kabupaten Sampang sebab keberadaannya berasal dari tradisi setiap bulan Ramadhan serta peralatannya unik dan tidak sama dengan musik patrol yang ada Daerah lain, Puncaknya Daol Combo menjadi pamungkas karena biasanya dua hari menjelang Lebaran selalu di lombakan
Alat musik berupa Kendang, Jidor, Ketipung, Seruling bambu, ecek ecek (dep) dan corongan seng sebagai pengeras suara vokal yang di senandungkan dengan irama melayu berkeliling kampung dengan menggunakan sepeda ontel dan diterangi lentera berupa obor (colok)
Namun suasana dan gema Daol Combo hampir tidak terdengar bahkan mendekati punah, hanya terdengar melalui pagelaran usai Lebaran dalam situasi dan suasana yang sangat berbeda dengan masa lampau
Para pelaku maupun pemerhati Daoel Combo merasa prihatin dengan kondisi tersebut, sejak era `85 an Pemerintah mulai melarang Daol Combo di lombakan pada Bulan Ramadhan dan berangsur ansur melarang juga Daoel Combo di jadikan media membangunkan orang sahur
Salah satu pelaku Daoel Combo dan pendiri Group New Seroja di jalan Kamboja Kelurahan Dalpenang Sampang Slamet Urip sabtu 3/6 menuding Pemkab ikut menjadi bagian dari punahnya Daoel Combo
Slamet Urip mengaku tidak berputus asa, kepedulian untuk menyelamatkan dan melestarikan musik tradisional Daoel Combo di wujudkan dengan mendirikan Group New Seroja yang musisinya berusia relatif muda
"Untuk menyelamatkan dan melestarikan Daoel Combo perlu regenerasi supaya ada semangat untuk lebih eksis," kata Slamet Urip
H Darso mantan pelaku sekaligus pemerhati Daoel Combo asal jalan Mutiara Kelurahan Banyuanyar Sampang mengungkapkan pencetus serta pelaku Daoel Combo merupakan tokoh masyarakat yang ada di kampung Kajuk dan Masegit (Masjid)
"Saya tidak habis berpikir jika Daoel Combo di larang menjadi media membangunkan orang sahur dengan dalih karena masukan tokoh agama dan masyarakat," tandasnya
Ditambahkan kalau mau jujur, penantian masyarakat Sampang khususnya kaum muda terhadap bulan Ramadhan selain karena Bulan Suci serta penuh ampunan juga menanti suasana Daoel Combo maupun Blanggur pertanda Buka puasa di Masjid Jamik
Sementara itu Kabid Budaya dan Pariwisata Disporabudpar Sampang Ghoforur Wadud membantah jika di katakan telah membiarkan musik tradisional Daoel Combo punah
Pemkab melalui Disporabudpar tetap melakukan pembinaan dan memfasilitasi seluruh musik tradisional yang ada di Kabupaten Sampang termasuk Daoel Combo
"Bahkan tahun ini 2017 Disporabudpar akan memfasilitasi pagelaran Daoel Combo setelah Lebaran," pungkas Ghofurur Wadud
Ditambahkan Pemkab sudah mengeluarkan surat edaran yang melarang Daoel Combo di gunakan untuk membangunkan orang sahur. (Her)
Sehingga Daoel Combo ini di anggap menjadi Musik tradisional Kabupaten Sampang sebab keberadaannya berasal dari tradisi setiap bulan Ramadhan serta peralatannya unik dan tidak sama dengan musik patrol yang ada Daerah lain, Puncaknya Daol Combo menjadi pamungkas karena biasanya dua hari menjelang Lebaran selalu di lombakan
Alat musik berupa Kendang, Jidor, Ketipung, Seruling bambu, ecek ecek (dep) dan corongan seng sebagai pengeras suara vokal yang di senandungkan dengan irama melayu berkeliling kampung dengan menggunakan sepeda ontel dan diterangi lentera berupa obor (colok)
Namun suasana dan gema Daol Combo hampir tidak terdengar bahkan mendekati punah, hanya terdengar melalui pagelaran usai Lebaran dalam situasi dan suasana yang sangat berbeda dengan masa lampau
Para pelaku maupun pemerhati Daoel Combo merasa prihatin dengan kondisi tersebut, sejak era `85 an Pemerintah mulai melarang Daol Combo di lombakan pada Bulan Ramadhan dan berangsur ansur melarang juga Daoel Combo di jadikan media membangunkan orang sahur
Salah satu pelaku Daoel Combo dan pendiri Group New Seroja di jalan Kamboja Kelurahan Dalpenang Sampang Slamet Urip sabtu 3/6 menuding Pemkab ikut menjadi bagian dari punahnya Daoel Combo
Slamet Urip mengaku tidak berputus asa, kepedulian untuk menyelamatkan dan melestarikan musik tradisional Daoel Combo di wujudkan dengan mendirikan Group New Seroja yang musisinya berusia relatif muda
"Untuk menyelamatkan dan melestarikan Daoel Combo perlu regenerasi supaya ada semangat untuk lebih eksis," kata Slamet Urip
H Darso mantan pelaku sekaligus pemerhati Daoel Combo asal jalan Mutiara Kelurahan Banyuanyar Sampang mengungkapkan pencetus serta pelaku Daoel Combo merupakan tokoh masyarakat yang ada di kampung Kajuk dan Masegit (Masjid)
"Saya tidak habis berpikir jika Daoel Combo di larang menjadi media membangunkan orang sahur dengan dalih karena masukan tokoh agama dan masyarakat," tandasnya
Ditambahkan kalau mau jujur, penantian masyarakat Sampang khususnya kaum muda terhadap bulan Ramadhan selain karena Bulan Suci serta penuh ampunan juga menanti suasana Daoel Combo maupun Blanggur pertanda Buka puasa di Masjid Jamik
Sementara itu Kabid Budaya dan Pariwisata Disporabudpar Sampang Ghoforur Wadud membantah jika di katakan telah membiarkan musik tradisional Daoel Combo punah
Pemkab melalui Disporabudpar tetap melakukan pembinaan dan memfasilitasi seluruh musik tradisional yang ada di Kabupaten Sampang termasuk Daoel Combo
"Bahkan tahun ini 2017 Disporabudpar akan memfasilitasi pagelaran Daoel Combo setelah Lebaran," pungkas Ghofurur Wadud
Ditambahkan Pemkab sudah mengeluarkan surat edaran yang melarang Daoel Combo di gunakan untuk membangunkan orang sahur. (Her)

0 Response to "DAOEL COMBO Musik Tradisional yang Hampir punah, New Seroja Inspirator Kaum Muda Dalam Bulan Ramadhan, Reporter Hernandi K S.Sos M.Si"
Post a Comment