Miris, Puluhan Tahun Nenek Onih" Tinggal Di Gubuk Reyot' Dalamnya Terdapat Makam Suaminya - Jejak Kasus Jabar.
Bogor, www.jejakkasus.info - Onih, nenek berusia 96 tahun, yang beralamat di Jalan Veteran, RT 3/7 Desa Banjarwaru, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat (Jabar) kerap dikerubungi warga dan pejabat beberapa hari belakangan ini.
Mereka tak lain bermaksud menengok kondisi nenek Onih yang tinggal di sebuah gubuk reyot. Di dalam gubuknya, juga terdapat kuburan atau uu suamuiinya yang telah meninggal sekitar 15 tahun silam.
Kabar ini mulai viral di media sosial lantaran dikabarkan suaminya dimakamkan di dalam gubuk karena nenek Onih keluarga miskin.
Camat Ciawi Bambang Setiawan dan rombongan serta Kepala Desa Banjarwaru Iip Syarifudin dan Ketua RW 07 Tata, Senin (17/4) mencoba menengok kondisi warganya itu.
Benar saja, kondisi hidup Onih sangat mengenaskan. Selama lebih dari 20 tahun ia tinggal di sebuah gubuk berukuran sekira 4 x 5 meter persegi terbuat dari bilik bambu, gelap, kumuh, dan berlantai tanah.
Gubuknya sendiri terbagi tiga bagian ruangan. Satu bagian untuk kamar tidur, satu bagian paling depan diisi bale tempat mengaso dan tungku tempat memasak serta tumpukan kayu bakar, dan satu bagian lagi seperti dapur di mana terdapat sebuah bale kayu yang di bawahnya terdapat makam (alm) Eno.
“Suami saya meninggal 15 tahun silam. Suami saya asal Cirebon. Saya sendiri asli Banjarwaru. Waktu sebelum meninggal suami saya pernah wasiat agar saya tak boleh ke mana-mana, harus tinggal dekat kuburannya. Jadi lebih dulu kuburan ada, baru rumah saya,” ungkap Onih yang belum pikun ini.
Nenek Onih mengaku, setiap hari ia makan dikirim oleh anaknya, Madana, yang tinggal di Desa Jambu Luwuk, Kecamatan Ciawi. Sedangkan untuk listrik dan keperluan lain, Onih bekerja sebagai pemulung pisang di gudang pisang di depan rumahnya. “Setiap hari saya mulung pisang untuk dikeringkan dan dijadikan selai pisang dan saya jual,” ungkapnya.
Nek Onih juga mengaku sudah dibangunkan rumah oleh anaknya yang lebih layak. Namun ia mengaku menolak dengan alasan tak mau meninggalkan kuburan suaminya.
Ketua RW 07 Banjarwaru, Tata, membenarkan bahwa Onih sudah pernah dibujuk untuk pindah ke tempat yang lebih layak, namun Onih selalu menolak. “Sebetulnya kami sudah berupaya memindahkan Mak Roni ke tempat lain, tapi dia selalu menolak karena mungkin saking setianya, entah kenapa dia selalu merasa di rumahnya ada makam suaminya yang memang tak mau ia tinggalkan,” jelas Tata.
Camat Ciawi Bambang Setiawan, mengaku prihatin dan bersama Pemdes Banjarwaru siap membantu perbaikan hidup Nenek Onih. “Sekarang yang penting bagaimana caranya Mak Onih ini mau pindah ke rumah yang sudah dibuatkan oleh anaknya. Karena kami kuatir nanti suatu saat ada pelebaran jalan sebab rumahnya berdiri di atas Damija. Kami dari kecamatan akan membantu sembako dan bentuk bantuan lainnya, termasuk usahanya,” terangnya.
Kades Banjarwaru Ipp Syaripudin menyatakan hal serupa. Namun ia mengatakan bahwa pihak Pemdes sudah berniat memasukkan nenek Onih sebagai penerima bantuan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
“Namun karena rumahnya berdiri di atas damija dan sebagian milik PT Mustika Raya Profertama maka sulit mendapat bantuan RTLH. “Kalau tanahnya bukan milik orang lain mungkin sudah sejak dulu dapat bantuan, tapi kami dan masyarakat akan berupaya memperbaiki dengan dana swadaya,” jelasnya.(Ayu).
Mereka tak lain bermaksud menengok kondisi nenek Onih yang tinggal di sebuah gubuk reyot. Di dalam gubuknya, juga terdapat kuburan atau uu suamuiinya yang telah meninggal sekitar 15 tahun silam.
Kabar ini mulai viral di media sosial lantaran dikabarkan suaminya dimakamkan di dalam gubuk karena nenek Onih keluarga miskin.
Camat Ciawi Bambang Setiawan dan rombongan serta Kepala Desa Banjarwaru Iip Syarifudin dan Ketua RW 07 Tata, Senin (17/4) mencoba menengok kondisi warganya itu.
Benar saja, kondisi hidup Onih sangat mengenaskan. Selama lebih dari 20 tahun ia tinggal di sebuah gubuk berukuran sekira 4 x 5 meter persegi terbuat dari bilik bambu, gelap, kumuh, dan berlantai tanah.
Gubuknya sendiri terbagi tiga bagian ruangan. Satu bagian untuk kamar tidur, satu bagian paling depan diisi bale tempat mengaso dan tungku tempat memasak serta tumpukan kayu bakar, dan satu bagian lagi seperti dapur di mana terdapat sebuah bale kayu yang di bawahnya terdapat makam (alm) Eno.
“Suami saya meninggal 15 tahun silam. Suami saya asal Cirebon. Saya sendiri asli Banjarwaru. Waktu sebelum meninggal suami saya pernah wasiat agar saya tak boleh ke mana-mana, harus tinggal dekat kuburannya. Jadi lebih dulu kuburan ada, baru rumah saya,” ungkap Onih yang belum pikun ini.
Nenek Onih mengaku, setiap hari ia makan dikirim oleh anaknya, Madana, yang tinggal di Desa Jambu Luwuk, Kecamatan Ciawi. Sedangkan untuk listrik dan keperluan lain, Onih bekerja sebagai pemulung pisang di gudang pisang di depan rumahnya. “Setiap hari saya mulung pisang untuk dikeringkan dan dijadikan selai pisang dan saya jual,” ungkapnya.
Nek Onih juga mengaku sudah dibangunkan rumah oleh anaknya yang lebih layak. Namun ia mengaku menolak dengan alasan tak mau meninggalkan kuburan suaminya.
Ketua RW 07 Banjarwaru, Tata, membenarkan bahwa Onih sudah pernah dibujuk untuk pindah ke tempat yang lebih layak, namun Onih selalu menolak. “Sebetulnya kami sudah berupaya memindahkan Mak Roni ke tempat lain, tapi dia selalu menolak karena mungkin saking setianya, entah kenapa dia selalu merasa di rumahnya ada makam suaminya yang memang tak mau ia tinggalkan,” jelas Tata.
Camat Ciawi Bambang Setiawan, mengaku prihatin dan bersama Pemdes Banjarwaru siap membantu perbaikan hidup Nenek Onih. “Sekarang yang penting bagaimana caranya Mak Onih ini mau pindah ke rumah yang sudah dibuatkan oleh anaknya. Karena kami kuatir nanti suatu saat ada pelebaran jalan sebab rumahnya berdiri di atas Damija. Kami dari kecamatan akan membantu sembako dan bentuk bantuan lainnya, termasuk usahanya,” terangnya.
Kades Banjarwaru Ipp Syaripudin menyatakan hal serupa. Namun ia mengatakan bahwa pihak Pemdes sudah berniat memasukkan nenek Onih sebagai penerima bantuan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
“Namun karena rumahnya berdiri di atas damija dan sebagian milik PT Mustika Raya Profertama maka sulit mendapat bantuan RTLH. “Kalau tanahnya bukan milik orang lain mungkin sudah sejak dulu dapat bantuan, tapi kami dan masyarakat akan berupaya memperbaiki dengan dana swadaya,” jelasnya.(Ayu).

0 Response to "Miris, Puluhan Tahun Nenek Onih" Tinggal Di Gubuk Reyot' Dalamnya Terdapat Makam Suaminya - Jejak Kasus Jabar."
Post a Comment